Kamis, 19 Februari 2015

Ho Chi Minh City: Pham Ngu Lao Street (2)

Banyak yang tidak tahu kalau ternyata Ho Chi Minh City dulunya adalah wilayah teritorial kerajaan Khmer. HCMC dulunya bernama Prey Nokor, sebuah kota pelabuhan Kamboja. Pada abad ke 16 terjadi perang saudara di Vietnam sehingga banyak pengungsi lari dan berdatangan ke Prey Nokor untuk meminta perlindungan. Chey Chetta, Raja Khmer yang saat itu berkuasa mengizinkan pengungsi Vietnam untuk mendirikan pemukiman di Prey Nokor. Semakin lama jumlah pengungsi makin banyak dan tak terkendali, sehingga terjadilah Vietnamisasi di kota kecil ini. Saat situasi politik Kamboja melemah karena perperangan dengan Thailand, Prey Nokor akhirnya dicaplok habis sama Vietnam. Kalo dipikir-pikir nggak tau terima kasih banget ya, hahaha. Setelah diduduki, pada abad ke 17 Nama Prey Nokor pun diubah menjadi Saigon.
Pertengahan abad 18, Saigon jatuh ke tangan Perancis. Pada masa inilah bangunan-bangunan dan jalan-jalan bergaya klasik barat mulai mengisi sebagian besar Saigon. Beberapa yang masih tersisa sampai sekarang adalah Saigon Opera House, Central Post Office dan yang paling terkenal tentunya Notre Dame Cathedral. Satu abad selanjutnya Saigon jadi kota penuh dengan perperangan, direbutin banyak pihak. Singkat cerita 1 Mei 1975 setelah jatuhnya Vietnam Selatan, barulah nama Saigon berubah menjadi Ho Chi Minh City. Meskipun begitu nama Saigon sampai sekarang masih sering digunakan. Ho Chi Minh juga sukses menjadi kota terbesar di Vietnam, meskipun ibukotanya tetap di ujung utara, Hanoi.
Sekian mukadimanya. Mari lanjut ke malam perdana saya di Ho Chi Minh City. Setelah dua jam istirahat di Sam Kang, saya dan teman-teman sepakat untuk jalan muter-muter Pham Ngu Lao street. Kesan pertamanya, Pham Ngu Lao street itu bener-bener touristic and western. Sepanjang jalan penuh dengan kafe, resto, hotel-hotel mahal sampe budget hostel, travel agency, money changer, hingar bingar night club. Ribuan orang dengan kewarganegaraan berbeda tumpah ruah dimana-mana. Suasananya sebenarnya menyenangkan, liburan banget deh kesannya. Saya dan teman-teman dengan pedenya ngeluarin hape dan kamera masing-masing, moto-moto setiap sudut. Lagi seru-serunya,  seorang  cowok seumuran saya dengan ransel tiba-tiba nyapa. “Hey, watch out your phone  and belongings. Somebody with motorbike could rip your belongings off and speed away!” Saya langsung mengucapkan terimakasih. Cowok itupun berlalu, hilang dikerumunan orang-orang.  Saya dan teman-teman berpandang-pandangan dan mulai menganalisa. Sepanjang jalan memang kebanyakan orang terlihat berhati-hati dengan barang bawaan mereka, tak satupun tampak mengeluarkan benda-benda berharga seperti ponsel atau kamera. Beberapa blok dari sana kami dikejutkan oleh seorang cewek bule teriak-teriak histeris, “My bag.. Oh my god, my passport.. credit card.. all is there!” kemudian jatuh lemes di trotoar. Orang-orang cuma bisa ngeliatin karena bingung mau gimana. Jambretnya juga udah kabur naik motor entah kemana. Parah banget deh, nggak kebayang  kalo saya di posisi mbak bule itu. Sesudah kejadian itu saya dan teman-teman jadi ekstra hati-hati. Barang-barang berharga semuanya disimpan di tempat paling aman.
Sebenarnya banyak banget yang bisa dieksplor di Pham Ngu Lao street, tapi dengan tingkat keamanan yang sedikit mengkhawatirkan, niat buat jalan-jalan sampe ke gang-gangnya perlahan memudar *halah bahasanya*. Saya nggak bilang kalau Pham Ngu Lao street nggak recommended ya! I love this street, I adore the vibrancy, I would love to visit this street again one day. Tapi ya kalau disini disarankan agar lebih hati-hati karena kriminalitasnya tinggi, banyak copet, jambret dan teman-teman satu spesiesnya. 
Saya dan teman-teman kemudian berhenti di sebuah toko es krim antik dengan jendela besar dan etalase penuh es krim warna-warni, Fany Ice Cream. Kami saling bertatap-tatapan, tanpa komando semuanya langsung masuk. Kita langsung naik ke lantai dua dan memesan es krim yang beda-beda, biar bisa icip-icip. Untungnya ada free wifi jadinya zombie-zombie post modernisasi ini bisa mengaktifkan gadget dan menghubungi significant other masing-masing, hahahhakkeselek. Suasana Fany Ice Cream benar-benar menenangkan apalagi setelah melewati jalanan dengan perasaan was-was. Hampir setiap sudut ada orang pacaran dengan mesranya. Hal ini agak mengganggu pemandangan saya yang mencari kedamaian. Saya pengen nuntun ke polisi atas tuduhan penganiayaan terhadap pria single yang kece seperti saya. *Ini apa lagi deh?* Saya memesan mixberries ice cream yang rasanya seger banget. Kalo nggak mikir-mikir bakalan mencret-mencret di bus gara-gara lactose intolerance labil yang kadang-kadang suka menyerang saya, mungkin saya udah cicipin itu es krim satu-satu. Harganya pun cukup ramah lah di kantong, cuma  35.000 – 40.000 Dong per scoopnya.
mixberries
drooool
Jam menunjukkan pukul 11.00 malam ketika kami memutuskan kembali ke pool bus Phuong Trang. Kita duduk-duduk di minimarket dekat sana, nunggu keberangkatan sambil gantian numpang mandi di pool Phuong Trang. Saya ganti pakaian sama baju kaos dan celana batik uzur yang udah mirip kain lap (kata Rama, orang kesekian yang bilang), tapi bodo lah yaaaa ini celana favorit saya kalau lagi traveling, soalnya ringan, longgar dan gak panas. Lagian cuma tinggal naik bus trus tidur sampe pagi. Kesamaan antara bus Indonesia dan Vietnam adalah sama-sama ngaret. Bus yang jadwalnya udah jalan jam setengah dua belas, baru nyampe sekitar jam dua belas lebih lima belas menit.  Tapi serius, busnya bagus banget! Tipenya sleeper gitu. Jadi nggak ada bangku, adanya kasur bertingkat. Sebelum naik bus wajib buka alas kaki. Nanti kita dikasi kantong kresek buat nyimpen sepatu atau sendal. Selain itu kita dikasih juga selimut biar bisa tidur nyenyak. Sayangnya nggak ada wifi, kalau ada wifi lengkaplah sudah bus Phuong Trang Futa Line ini. Di Indonesia, setahu saya belum ada bus tipe sleeper. Bus paling nyaman yang pernah saya naiki adalah bus dari Medan  ke Banda Aceh, Sempati Star. Bangkunya 2-1, agak lapang, dikasi selimut gratis, free wifi dan jalannya smooth banget. Itu aja udah enak banget, saya ketiduran tau-tau udah nyampe aja di Banda Aceh, apalagi bus dengan tempat tidur kayak gini ya, pikir saya. Estimasi perjalanan menuju Dalat adalah delapan jam. Baru beberapa menit di atas bus kami langsung tewas kecapekan. Dalat, here we come!
                                                                                                                                       to be continued..

1 blabla(s):

sherlina halim mengatakan...

Pengen yang lebih seru ...
Ayo kunjungi www.asianbet77.com
Buktikan sendiri ..

Real Play = Real Money

- Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
- Bonus Mixparlay .
- Bonus Tangkasnet setiap hari .
- New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
- Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
- Cash Back up to 10 % .
- Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
- YM : op1_asianbet77@yahoo.com
- EMAIL : asianbet77@yahoo.com
- WHATSAPP : +63 905 213 7234
- WECHAT : asianbet_77
- SMS CENTER : +63 905 209 8162
- PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

Salam Admin ,
http://asianbet77.com/

 

Blog Template by